Hal apa yang paling menyakitkan selain cinta yang terpisah oleh dinding rasa? Ketika hati paksa ia tutup namun batin terus memberontak. Kenyataan memang sungguh tidak mengenakkan.
Adalah kisah seorang wanita yang tengah berpura - pura tersenyum dibalik kecamuknya bathin dan teriakan kesal dalam jiwa. Semua karna hilangnya keberpihakan Cinta pada mimpi dan asa yang terus ia bisikkan ketika malam bertahta.
Sementara berdoa agar semua kepura - puraan segera berlalu ia tetap berdiri kokoh dengan senyuman yang kini bukan lagi miliknya. Katanya, "Tidak ada yang perlu disalahkan. Bukankah cinta itu tidak untuk menyiksa?"
Lidah memang pandai mengelak dari kata hati, namun bahasa tubuh adalah sebuah kemutlakan yang tidak mampu disingkirkan dari apa yang terinstruksi oleh hati.
Dia mencoba memenjarai Cinta. Dia coba berjuang semampunya untuk menanggalkan gaun kasih yang telah Tuhan turunkan untuknya. Padahal kebahagiaan atas dirinya adalah yang perlu dia pertimbangkan.
Tengah dalam kepura - puraan itu aku melihat, bahwa ternyata ego adalah permen mentos yang terkurung dalam botol minuman bersoda atau bom waktu yang akan mengantarkan hati pada sebuah letusan yang menyisahkan pilu.
Aku bertanya, Mengapa kakinya tetap kokoh berdiri ketika belati dan bermacam senjata tajam tertancap pada tubuh mungil tak berdaya itu. Jawabnya kaki telah terikat oleh belenggu besi yang ia ciptakan dan aku rekatkan ke kaki. Seperti bunuh diri, tapi Cinta memang begitu. Semua yang terjadi karenanya terkadang sulit diterima oleh akal sehat.
Setidaknya dapat melihatnya tersenyum, atau menatapnya dalam hari - hariku aku cukup bahagia. Ah... Omong kosong apa lagi ini? Namun sekali lagi, Cinta memang pandai melahirkan bermacam keanehan.
Hingga waktunya tiba, ia ingin tetap terpasung dalam belenggu yang amat menyiksa itu hingga darah mengering dan luka perlahan hilang karna pagi akan segera menjemputnya. Padahal haknya adalah menjemput bahagianya.
Mungilnya jasad, Sucinya Jiwa dan Dalamnya Rasa. Memang selalu menuntut untuk tetap terjaga dalam mata air dari airmatanya.
Chusnul Chotimah, atau dikenal dengan sapaan husnul, gadis yang lahir di lubuk linggau, 16 januari 2002. Ia memiliki hobi bermain catur, webtoon, wattpad, dan membaca buku kisah menarik, membuatnya berkeinginan untuk terus berkarya dalam hal kepenulisan. Buku antalogi pertamanya, yang berjudul " palung rindu " merupakan cerpen pertamanya di SMA. Yang mana telah dimuat pada 2018 kemaren. Saat ini husnul berusia 17 tahun, yang mana sekarang husnul telah menjadi maba di salah satu universitas yang bernama " universitas bina insan " yang mana, universitas itu terletak di kota lubuklinggau. Tempat dimana husnul berasal. Husnul, mempunyai seorang kakak perempuan yang saat ini beliau sedang mengajar di sdit al-qudwah. RIWATAT PENDIDIKAN : - Tk Aisyah - Sd Negeri 4 - Smp Ma'arif Nu - Sma Negeri - dan saat ini maba di universitas bina insan. Prestasi : . juara 1 puisi . juara 2 kategori. Hal yang Pernah diikuti : . lomba ngaji . lomba ceram...
"Pada akhirnya... Semua akan menemukan yang namanya titik Jenuh. Dan pada saat itu, kembali adalah yang terbaik. " ( Jeffry Al- Buchori ) Iringan kalimat la ilaha illallah Terus berkumandang seiring lautan pelayat yang terus bertambah. Jumat, 26 April 2013 menjadi hari yang paling mengejutkan. Bukan hanya kerabat dekat, sahabat, atau keluarga, melainkan seluruh masyarakat negeri ini kaget dengan berita itu. Ia meninggal Di usia yang ke-40. USIA dimana Manusia meraih jatah kematangan dalam hidupnya. Suara ambulan memecahkan jantung kota metro-politan. Tepat pukul 10.45, Mobil jenazah itu sampai di masjid Istiqlal. Di tempat ini, ribuan jamaah telah menunggu. Bersiap memberi penghormaran telakhir untuk Ustad Jeffry Al-Buchori. Anggota kepolisian dan TNI tampak berjaga-jaga. Setiap jamaah mengangkat tangan ketika jenazah diangkat dari Mobil ambulan. Angkat tangan ribuan jamaah, adalah uluran betapa mereka ingin menghormati sosok Nashirul Islam ITU. Mujahid y...
Komentar
Posting Komentar