Lamunanku

Namaku Andi, remaja laki-laki berusia 24 tahun dengan seugudang mimpi yang selalu diwujudkan dalam lamunan.

Setidaknya begitulah gambaran diriku.
Melamun menjadi aktivitas yang mengasyikan untuk anak dengan keperibadian yang sedikit tertutup seperti aku.

Keramaian sebisa mungkin aku hindari, tapi bukan berarti aku tidak mau bergaul.

Sesekali aku juga sering menghabiskan waktuku bersama teman dekatku.

Menghabiskan waktu di warung kopi salah satunya. Mengobrol mengenai isu hangat yang terjadi bersama teman, menjadi selingan asyik ditengah kegemaranku untuk menyendiri.

Unik memang disaat banyak orang lain yang kerap mengeluh di sosial media tentang jenuhnya mereka menjalani rutinitas harian di tengah kerumunan, dengan mencantumkan hastag kurang piknik, aku justru mengeluh karena terlalu banyak ‘piknik’ dan sesekali ingin melepaskan kejenuhan itu untuk berada di tengah kerumunan banyak orang.

Pada suatu sore, di teras depan kamar tempat yang kuanggap asyik untuk memutar lamunan yang ada di kepala.

 Banyak hal yang sering aku lamunkan.

Mulai dari pencapaian karir yang ingin kuraih, pasangan hidup dambaan sampai lamunan persahabatan yang sudah aku jalani.

 Lamunan dengan tema yang terakhir itulah yang saat ini sering aku mainkan di kepala. Lamunan tidak hanya melulu tentang masa depan kan? Masa lalu tentang jalinan persahabatan pun bisa menjadi tema yang asyik untuk dimainkan di kepala.

Hampir empat tahun aku berkuliah dan masa-masa itu sudah terlewati.
 Ingatan tentang kehidupan kampus, khususnya tentang persahabatan menjadi sering aku lamunkan pada saat ini. Selain hobi melamun, terjebak dalam masa lalu juga sering bermain dalam pikiranku.

Masa dimana mengerjakan tugas bersama, bolos kuliah bareng, jalan-jalan ke luar kota dan angan ingin menjaga ikatan persahabatan sampai kapanpun, masih membekas dalam ingatan yang selalu jadi bahan lamunanku.

Pertemuan dan perpisahan menjadi dua sisi koin yang tidak bisa dipisahkan.
Itu fakta dan sudah kodratnya, itulah yang sudah aku alami dalam jalinan persahabatanku.
 Ditemukan secara tidak sengaja dan berasal dari beragam latar belakang berbeda, terkadang membuatku tersenyum-sedih ketika aku mengingat dalam lamunanku. Rasa sedih tersebut timbul karena persahabatan yang terjalin dengan janji tidak akan memutuskan tali persahabatan itu, sekarang seolah sudah mulai kendur. Waktu memang tidak bisa dilawan, kekuatan komitmen apapun itu jika hanya sebatas diucapkan tanpa ada ujian dari waktu hanya menjadi angin lewat.
 Itulah yang setidaknya terjadi padaku.

Aku merasa persahabatan yang aku jalani dengan mereka yang sudah aku anggap sebagai saudara sendiri sudah mulai goyah. Momen wisuda menjadi kikir yang mulai mengikis eratnya tali persahabatan itu. selepas aku dan teman-teman wisuda ada dua perasaan, senang sekaligus sedih yang saling tarik menarik. Perasaan senang itu timbul karena aku sudah bisa menyelesaikan kuliahku selama empat tahun lebih dan Ibuku turut merasakan kebanggaan melihat anak bungsunya sudah menyelesaikan pendidikan Strata Satu.

Di lain pihak timbul juga perasaan sedih itu, wajah para sahabatku yang hampir mewarnai hari-hariku segera meninggalkanku. Tingkah konyol dan canda tawa itu akan segera berakhir. Toga wisuda yang berwarna hitam seolah mewakili bayangan yang siap menelan mereka dan hilang di hadapanku. Foto wisuda bersama sahabat menjadi momen yang membuat sedih. Ketika yang lain memberikan senyum terbaiknya di depan kamera, aku hanya memberi senyum seadanya bahkan cenderung palsu. Para sahabatku seolah tidak menyadari bahwa perpisahan sebagai dampak pertemuanku dengan mereka sudah semakin dekat.

Sekarang  dalam lamunanku sore ini, kesedihan itu kembali menyergap.

Para sahabatku sudah mulai berjuang masing-masing untuk mencapai tujuan hidupnya.
 Di satu sisi aku memang masih merasa kekanak-kanakan, dengan mengharapkan bisa terus berkumpul dengan mereka, tapi di sisi lain apakah aku sebagai manusia tidak boleh mengharapakan sesuatu, yang dimana harapan itu tidaklah bersifat mewah apalagi merugikan orang lain. Harapan tinggalah harapan dan segala harapan itu sebisa mungkin aku selipkan dalam setiap Do’aku sehabis Sholat. Harapan sederhana yang selalu aku panjatkan dan semoga terkabul yaitu semoga para sahabatku bisa mengerti apa yang sedang aku rasakan. Amin.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Biografi

Kembali adalah yang terbaik