Gengaman Perpisahan

Kuncup yang mekar bahkan tak mendatangkan satu pun kumbang untuk mengecup manisnya
Gelegar riuh hujan tak sedikitpun ikut menerbangkan rasa dingin yang membuat gentar
Kaki kuat melangkah semakin cepat mendekati hari beranjak gelap
Di bawah sinar seadanya aku amati kembali kemana jejak yang melenyapkan-mu pergi
Aroma basah, rumput mengeliat dan pohon separuh berbisik
Ranting berjatuhan menimbulkan bunyi langkah samar
Bulan begitu pelit menyimpan cahayanya untuk dinikmati sendiri
Bumi semakin beku, dalam sepi, menua dan renta
Tegar terus menerjang lebat pepohonan diantara tanaman pemakan mimpi ku
Kejam ku susun langkah menuju jauh
Meninggalkan tempat pembaringan
Mengikuti jejak jawaban yang kau taburkan
Bila kau tanyakan mengenai rasa sakit? Sabetan pedang tidak akan membuat darahku jatuh meski hanya satu titik sebesar gerimis
Jauh di dalam rongga di tengah dada, luka menganga mematikan ku meski aku masih bisa berlari satu mill lagi

Komentar

  1. Kata org jangan tangisi perpisahan, tapi tangisi pertemuan karena ia awal dr perpisahan

    BalasHapus
  2. Masyaa Allah, semangat Kak Chusnul~ Kukira awalnya ini tulisan non-fiksi yang nggak bertanda baca (?) taunya puisi ya? hehehe

    BalasHapus
  3. Akhirnya aku baca puisi lagi setelah sekian lama tak membacanya

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Biografi

Kembali adalah yang terbaik