Tantagan 3
Bismillah..
Assalamualaikum, wr.wb.
Sebelumnya bingung mau nulis apa, jadi saya memutuskan untuk menulis TENTANG DUNIA PERKULIHAN
Dunia perkulihan bagi saya, biasa saja jujur sebelumnya saya sangat suka kuliah.
Bahkan dulu, seketika SMA saya tak sabar menantikan seperti apa dunia kuliah.
Pasti menyenangkan ujar pikiran saya dikala itu. Saya terus memikirkan dan menulis harapan saya yang hendak kuliah di kampus favorit.
Dunia perkuliahan bagi saya kini biasa saja. Bahkan cenderung membosankan. Padahal dulunya saya merasakan euforia, tak sabar meninggalkan bangku sekolah dan merasakan kegemilangan alam kampus.
Saya menerka-nerka, kesenangan apa yang saya raih ketika nanti jadi mahasiswa? Saya bisa bebas mengekspresikan style bergaya tanpa terkungkung seragam sekolah.
Pergaulan saya akan lebih luas dibandingkan waktu SMA.
Yang paling terpenting, saya bisa mendalami ilmu sesuai minat saya : Sejarah Peradaban Islam. Dadaku benar-benar ingin meledak karena tak sabar ingin kuliah.
Saat waktu SMA, kelas 3 jujur saya bingung hendak kemana saya, mau jadi apa saya.
Pertanyaan demi pertanyaan, terus terlintas dibenak.
Perasaan takut, tidak bisa kuliah terus menghantui saya itu.
Karena jujur, tekat ingin kuliah telah saya niatkan dari lama sebelum masuk SMA.
Namun jika ditanya, hendak kuliah dimana saya bingung yang jelas saat itu, pikiran saya terlintas ingin jauh dari ortu.
Dan ingin bisa mandiri, dan tentunya ingin mendapatkan pengalaman yang menarik.
Khayalan dulu sih ketika kuliah, saat itu dengan tekad yang kuat ingin jauh juga, karena pinginnya pas pulang ortu lihat anaknya yang menutut kuliah jauh pulang dengan membawa mobil.
Ha..ha..ha itu adalah pikiran konyol saya saat itu, betapa saya sadar sekarang bahwa harapan dan kenyataan pada akhirnya memang tak sejalan.
Oke lanjut, saat SMA kelas tiga saya mengikuti semua seleksi test masuk perguruan tinggi kecuali PMDK, hanya PMDK yang tidak saya ikuti.
Saat pertama saya mengikuti SN jalur undangan, saat itu baru pertama bukak langsung tidak lulus.
Jujur miris banget, sedih tapi tetep masih miliki semangat, karena saat itu ada seorang sahabat yang menyemangati.
Saat itu, saya sampai bolos jam pelajaran karena sedih.
tapi teman yang menghibur saya bilang, kamu jangan sedih karena masih ada SBMPTN.
Dengan penuh harap saya mengikuti SMBPTN dan segera membayar uang untuk mengikuti SBMPTN.
Saya mengikuti SMBPTN dua kali, yang pertama di Palembang, dan yang kedua di Bengkulu.
Dua-duanya saya mengambil Soshum.
Walaupun saya di jurusan ipa yang seharusnya saya mengambil Saintek, saya merasa bahwa Soshum lebih menarik minat saya.
Jadi test pertama di palembang saya belajar sehari sebelum test, banyak ngerjain soal-soal.
Tentu saja, segala doa dan harapan yang baik telah di panjatkan tinggal menunggu hasil.
Alhasil, setelah seminggu tibalah pengumuman hasil UTBK disana saya melihat nilai saya yang paling besar MTK.
TERUS, pada test di bengkulu, jujur mulai males, lesu soalnya pas puasa sih..wk.wk.wk...
Tapi dengan niat yang kuat saya katakan lagi bahwa saya ingin kuliah.
Jadi, saya mencoba untuk semangat meraih cita-cita.
Keesokan hari, saat saya test UTBK saya bangun pagi, saat mengikuti utbk di bengkulu saya bersama sahabat karib saya, temen dari tk sekaligus saya dan dia sama-sama pejuang SBMPTN.
Saya, dan sahabat karib saya diantar dengan mobil oleh kakak perempuan saya, menuju tempat test kami berlangsung.
Lima belas menit, sudah menempuh diperjalanan, akhirnya sampailah kami di lokasi, sebelum melangkahkan kaki hendak masuk gerbang tentu tak lupa, berpamitan pada kakak agar test yang trakhir ini dimudahkan.
Singkat cerita, Sejam kami mengerjakan soal-soal akhirnya selasai sudah.
Saya dan sahabat saya menghela nafas lega, karena telah berhasil menyelesaikan utbk yang membuat kami pusing memikirkannya.
Sejenak, kami merasa lega tapi tetap sangat was-was dengan hasilnya.
Oya, temen-temen hampir kelupaan sebelum tes utbk gelombang ke 2 di bengkulu, sebenarnya saya telah dinyatakan lulus undangan PTKIN disebuah universitas negeri bukittinggi.
Saat lulus, di BUKITTINGGI perasaan senang dan bahagia merasuki diri saya, tentu saja bersyukur sama Allah.
tapi kalian tahu respon ibu saya saat itu, ibu bilang saya mengambil jurusan yang tidak berbobot.
Karena, mengambil jurusan sejarah peradaban islam.
Padahal saya ingin berkelana, dan menjelajahi dunia.
Siapa yang tahu, bahwa dengan saya menjadi sejarah peradaban, saya disuruh meneliti islam yang dulu dengan yang sekarang, Bukankah itu keren dan mengagumkan ( ujar saya dikala itu ).
Dengan di remehkan sama orang tua, orang tua bilang kamu ngambil sejarah peradaban islam mau jadi apa ha kedepannya, apa mau jadi sejarahwan!
Perasaan yang tadinya udah seneng baget berubah menjadi sedih, sedih karena ternyata orangtua tak bangga dengan pencapaian saya.
Padahal saya, Dari dulu memang bercita-cita menjadi ahli sejarah peradaban Islam.
Saya ingin menyadarkan kaum Muslimin akan kejayaan kekhalifahan Islam di masa lampau.
Terbayang dipikiran saya penjelajahan sejarah di jalur sutra, Turki, kalau bisa sampai Palestina.
Memimpikannya saja sudah membuat diri ini berdecak kagum. Impian yang sangat besar untuk gadis kecil seperti Saya.
Tertancap tekad dalam diri, saya harus lulus ujian masuk perguruan tinggi favorit!.
Tapi, tentu saja ortu tetap tidak setuju, tapi saya bukanlah anak yang gampang menyerah, saya pun bilang sama ortu bahwa sesuai janji kalau saya dinyatakan lulus perkuliahan negeri mereka berjanji akan memperbolehkan saya untuk kuliah jauh.
Tapi ortu tetap ngasih peringatan, bahwa Udahlah kamu kuliah disini, tapi saya tetap tidak setuju karena keinginan untuk kuliah jauh lebih besar dari apapun saat itu.
Akhirnya, undangan saya gugur.
Jadi, ortu mengalah. ortu bilang kalau saya lulus jalur SBMPTN kamu boleh kuliah jauh.
Jadi, sambil menunggu kelulusan tidak henti-hentinya saya berdoa pada Allah SWT, agar Allah perkenankan saya untuk kuliah jauh.
Tak terasa telah lama saya menanti kelulusan, dengan perasaan was-was saya mengucapkan Bismillah, Alhasil kalian tahu???....!!
Saya kecewa, saya bener-bener kecewa saya tidak lulus SBMPTN.. perasan saya hancur berkeping-keping, saya marah pada diri marah pada takdir dan marah pada semuanya.
Saya nangis berlarut-larut sepanjang hari saya terus menangis, sering menunda waktu sholat, saking kecewanya.
Jujur saja, saya menjadi tidak nafsu lagi untuk kuliah, rasanya udah males banget untuk kuliah, jujur saya tidak terima jika saya tidak lulus.
Perasaan takut, berharap menghantui saya, senjak kejadian SBMTN saya, jadi takut berharap, menjadi orang yang intorvert, sering sendiri.
Akhirnya, setelah saya dinyatakan tidak lulus 2 minggu setelahnya saya didaftarkan oleh ibuk saya, disebuah kampus univbi lubuklinggau, di kupang.
Lagi dan lagi saya hanya menangis. menangis dan terus menangis karena bukan kampus yang saya impikan.
Dengan, berat hati dan tangisan saya menjalani hari-hari dikampus mengikuti ospek, dan banyak hal yang membosankan yang terjadi.
Tak, peduli mau sebanyak apapun teman yang peduli, atau seberapa banyakpun teman yang ada.
saya belom bisa menerima mereka sebagai teman, jujur belom pernah bisa.
Kenangan kelabu, yang pernah saya alami membuat saya sedih, dan menjadi tak semangat menjalani hari-hari.
.
.
.
Dan sekarang, saat ini saya ngampus di lubuklinggau, tempat kelahiran saya.
Saya, mengambil prodi management karena, orang tua saya seorang pembisnis.
Harapan, mereka mungkin dengan adanya saya didunia bisnis, bisa membangun bakat saya untuk terjun didunia bisnis.
Seperti yang telah saya ucapkan, bahwa saya bener-benar tidak bahagia.
Saya, hanya mencoba untuk menjadi bahagia.
Tapi, berpura-pura bahagia butuh banyak tenaga bukanπ.
Jadi, saya mencoba membuat orang disekeliling bahagia, dan tertawa karena saya. Itu saya lakukan agar mereka tak tahu bahwa dibalik kebahagian tersimpan luka.
Andai takdir sekali saja, berpihak pada saya, saya ingin diluluskan, andai Allah saat itu mengabulkan permintaan saya untuk lulus di perguruan tinggi tentu saya akan bahagia.
Bahagia, karena tidak mengutuk bahwa diri ini bodoh, bahagia karena mendapatkan pengalaman yang akan didapatkan diluaran sana, bahagia karena menjadi anak yang mandiri.
Orang bilang, Allah tahu yang terbaik, orang bilang harus yakin bahwa apa yang ditakdirkan untukmu tak akan melewatimu dan sebaliknya apa yang tidak ditakdirkan untukmu tak akan pernah datang padamu.
Dan orang juga bilang bahwa semua akan indah pada waktunya.
Jujur, saya belom bisa mengatakan bahwa semua akan indah pada waktunya, karena seperti apa yang telah saya katakan, saya takut berharap.
Namun, percaya atau tidak yakinlah bahwa semua yang telah hilang tidak akan kembali.
Sekarang, saya harus menerima kenyataan bahwa disini saya bernaung dan bertempat.
Tidak akan pernah pergi ataupun berpaling.
Sekarang, saya ingin bahagia.
Ingin menjalani kehidupan ini, dengan senyuman dan keceriaan.
Walaupun, melupakan semuanya tak semudah membolak-balikan telapak tangan.
Hanya, saja saya ingin bersyukur terhadap ketetapan Allah SWT.
ALLAH, tahu apa yang terbaik.
Manusia, hanya bisa berencana yang hanya menentukan pada Akhirnya ialah dia sang maha pencipta.
Mungkin, dengan saya kuliah disini banyak sekali hikmah yang bisa dipetik, yang bahkan saya sendiri tak pernah menyadari.
Tatapan kosong, dan rasa haru masih membekas dihati. Rasa haru masih terasa di hati. Tapi, apakah dengan bersedih bisa mengembalikan segala yang telah hilang?
Tentu tidak bukan, jadi saya bilang pada diri saya, bahwa mulai detik ini kini dan selamanya.
Saya, Chusnul Chotimah akan bangkit dan semangat untuk menghadapi kehidupan ini. Jadi, saya seorang pejuang!!
Sekali lagi saya katakan saya seorang pejuang, hanya karena pernah gagal atau salah jurusan, lantas saya jadi sedih dan membiarkan mereka yang membenci tertawa bahagia.
Atau membiarkan orang tua saya merasa gagal dalam mendidik. Tidak saya tidak akan membiarkan itu terjadi.
Akan saya pastikan, walaupun saya kuliah di universitas bina insan, sebuah universitas yang tak pernah saya inginkan, untuk berada disana, intinya dimanapun saya atau kalian semua yang pernah mengalami yang saya rasakan, yakinlah bahwa, semua kampus itu sama saja. terngantung bagaimana oknumnya sendiri bakal menyikapi seperti apa.
Dimanapun kamu berada, kalau memang ALLAH perkenankan kamu sukses yakinlah bahwa itu akan terjadi.
ALLAH TAHU APA YANG KITA BUTUHKAN, DAN KITA CARI, LANTAS KENAPA MASIH BERSEDIH,
JADI, AYO TEMEN-TEMEN BANGKIT BERSAMAKU.. DAN KITA SEMUA TATAP DUNIA INI BERSAMA-SAMA.
KITA TELUSURI NEGERI INI, KERAHKAN SEMANGAT YANG KUAT BAHWA SAYA, KAMU DAN KITA SEMUA BISA MENJADI YANG TERHEBAT ❤ππππ€π€π
Cukup sekian, cerita saya..
Salam hangat dari saya, bagi kamu yang membacanya.
Saya buka dengan salam, maka saya akhiri dengan salam jugaπ.
Saya akhiri wasalamualaikum wr.wb
Assalamualaikum, wr.wb.
Sebelumnya bingung mau nulis apa, jadi saya memutuskan untuk menulis TENTANG DUNIA PERKULIHAN
Dunia perkulihan bagi saya, biasa saja jujur sebelumnya saya sangat suka kuliah.
Bahkan dulu, seketika SMA saya tak sabar menantikan seperti apa dunia kuliah.
Pasti menyenangkan ujar pikiran saya dikala itu. Saya terus memikirkan dan menulis harapan saya yang hendak kuliah di kampus favorit.
Dunia perkuliahan bagi saya kini biasa saja. Bahkan cenderung membosankan. Padahal dulunya saya merasakan euforia, tak sabar meninggalkan bangku sekolah dan merasakan kegemilangan alam kampus.
Saya menerka-nerka, kesenangan apa yang saya raih ketika nanti jadi mahasiswa? Saya bisa bebas mengekspresikan style bergaya tanpa terkungkung seragam sekolah.
Pergaulan saya akan lebih luas dibandingkan waktu SMA.
Yang paling terpenting, saya bisa mendalami ilmu sesuai minat saya : Sejarah Peradaban Islam. Dadaku benar-benar ingin meledak karena tak sabar ingin kuliah.
Saat waktu SMA, kelas 3 jujur saya bingung hendak kemana saya, mau jadi apa saya.
Pertanyaan demi pertanyaan, terus terlintas dibenak.
Perasaan takut, tidak bisa kuliah terus menghantui saya itu.
Karena jujur, tekat ingin kuliah telah saya niatkan dari lama sebelum masuk SMA.
Namun jika ditanya, hendak kuliah dimana saya bingung yang jelas saat itu, pikiran saya terlintas ingin jauh dari ortu.
Dan ingin bisa mandiri, dan tentunya ingin mendapatkan pengalaman yang menarik.
Khayalan dulu sih ketika kuliah, saat itu dengan tekad yang kuat ingin jauh juga, karena pinginnya pas pulang ortu lihat anaknya yang menutut kuliah jauh pulang dengan membawa mobil.
Ha..ha..ha itu adalah pikiran konyol saya saat itu, betapa saya sadar sekarang bahwa harapan dan kenyataan pada akhirnya memang tak sejalan.
Oke lanjut, saat SMA kelas tiga saya mengikuti semua seleksi test masuk perguruan tinggi kecuali PMDK, hanya PMDK yang tidak saya ikuti.
Saat pertama saya mengikuti SN jalur undangan, saat itu baru pertama bukak langsung tidak lulus.
Jujur miris banget, sedih tapi tetep masih miliki semangat, karena saat itu ada seorang sahabat yang menyemangati.
Saat itu, saya sampai bolos jam pelajaran karena sedih.
tapi teman yang menghibur saya bilang, kamu jangan sedih karena masih ada SBMPTN.
Dengan penuh harap saya mengikuti SMBPTN dan segera membayar uang untuk mengikuti SBMPTN.
Saya mengikuti SMBPTN dua kali, yang pertama di Palembang, dan yang kedua di Bengkulu.
Dua-duanya saya mengambil Soshum.
Walaupun saya di jurusan ipa yang seharusnya saya mengambil Saintek, saya merasa bahwa Soshum lebih menarik minat saya.
Jadi test pertama di palembang saya belajar sehari sebelum test, banyak ngerjain soal-soal.
Tentu saja, segala doa dan harapan yang baik telah di panjatkan tinggal menunggu hasil.
Alhasil, setelah seminggu tibalah pengumuman hasil UTBK disana saya melihat nilai saya yang paling besar MTK.
TERUS, pada test di bengkulu, jujur mulai males, lesu soalnya pas puasa sih..wk.wk.wk...
Tapi dengan niat yang kuat saya katakan lagi bahwa saya ingin kuliah.
Jadi, saya mencoba untuk semangat meraih cita-cita.
Keesokan hari, saat saya test UTBK saya bangun pagi, saat mengikuti utbk di bengkulu saya bersama sahabat karib saya, temen dari tk sekaligus saya dan dia sama-sama pejuang SBMPTN.
Saya, dan sahabat karib saya diantar dengan mobil oleh kakak perempuan saya, menuju tempat test kami berlangsung.
Lima belas menit, sudah menempuh diperjalanan, akhirnya sampailah kami di lokasi, sebelum melangkahkan kaki hendak masuk gerbang tentu tak lupa, berpamitan pada kakak agar test yang trakhir ini dimudahkan.
Singkat cerita, Sejam kami mengerjakan soal-soal akhirnya selasai sudah.
Saya dan sahabat saya menghela nafas lega, karena telah berhasil menyelesaikan utbk yang membuat kami pusing memikirkannya.
Sejenak, kami merasa lega tapi tetap sangat was-was dengan hasilnya.
Oya, temen-temen hampir kelupaan sebelum tes utbk gelombang ke 2 di bengkulu, sebenarnya saya telah dinyatakan lulus undangan PTKIN disebuah universitas negeri bukittinggi.
Saat lulus, di BUKITTINGGI perasaan senang dan bahagia merasuki diri saya, tentu saja bersyukur sama Allah.
tapi kalian tahu respon ibu saya saat itu, ibu bilang saya mengambil jurusan yang tidak berbobot.
Karena, mengambil jurusan sejarah peradaban islam.
Padahal saya ingin berkelana, dan menjelajahi dunia.
Siapa yang tahu, bahwa dengan saya menjadi sejarah peradaban, saya disuruh meneliti islam yang dulu dengan yang sekarang, Bukankah itu keren dan mengagumkan ( ujar saya dikala itu ).
Dengan di remehkan sama orang tua, orang tua bilang kamu ngambil sejarah peradaban islam mau jadi apa ha kedepannya, apa mau jadi sejarahwan!
Perasaan yang tadinya udah seneng baget berubah menjadi sedih, sedih karena ternyata orangtua tak bangga dengan pencapaian saya.
Padahal saya, Dari dulu memang bercita-cita menjadi ahli sejarah peradaban Islam.
Saya ingin menyadarkan kaum Muslimin akan kejayaan kekhalifahan Islam di masa lampau.
Terbayang dipikiran saya penjelajahan sejarah di jalur sutra, Turki, kalau bisa sampai Palestina.
Memimpikannya saja sudah membuat diri ini berdecak kagum. Impian yang sangat besar untuk gadis kecil seperti Saya.
Tertancap tekad dalam diri, saya harus lulus ujian masuk perguruan tinggi favorit!.
Tapi, tentu saja ortu tetap tidak setuju, tapi saya bukanlah anak yang gampang menyerah, saya pun bilang sama ortu bahwa sesuai janji kalau saya dinyatakan lulus perkuliahan negeri mereka berjanji akan memperbolehkan saya untuk kuliah jauh.
Tapi ortu tetap ngasih peringatan, bahwa Udahlah kamu kuliah disini, tapi saya tetap tidak setuju karena keinginan untuk kuliah jauh lebih besar dari apapun saat itu.
Akhirnya, undangan saya gugur.
Jadi, ortu mengalah. ortu bilang kalau saya lulus jalur SBMPTN kamu boleh kuliah jauh.
Jadi, sambil menunggu kelulusan tidak henti-hentinya saya berdoa pada Allah SWT, agar Allah perkenankan saya untuk kuliah jauh.
Tak terasa telah lama saya menanti kelulusan, dengan perasaan was-was saya mengucapkan Bismillah, Alhasil kalian tahu???....!!
Saya kecewa, saya bener-bener kecewa saya tidak lulus SBMPTN.. perasan saya hancur berkeping-keping, saya marah pada diri marah pada takdir dan marah pada semuanya.
Saya nangis berlarut-larut sepanjang hari saya terus menangis, sering menunda waktu sholat, saking kecewanya.
Jujur saja, saya menjadi tidak nafsu lagi untuk kuliah, rasanya udah males banget untuk kuliah, jujur saya tidak terima jika saya tidak lulus.
Perasaan takut, berharap menghantui saya, senjak kejadian SBMTN saya, jadi takut berharap, menjadi orang yang intorvert, sering sendiri.
Akhirnya, setelah saya dinyatakan tidak lulus 2 minggu setelahnya saya didaftarkan oleh ibuk saya, disebuah kampus univbi lubuklinggau, di kupang.
Lagi dan lagi saya hanya menangis. menangis dan terus menangis karena bukan kampus yang saya impikan.
Dengan, berat hati dan tangisan saya menjalani hari-hari dikampus mengikuti ospek, dan banyak hal yang membosankan yang terjadi.
Tak, peduli mau sebanyak apapun teman yang peduli, atau seberapa banyakpun teman yang ada.
saya belom bisa menerima mereka sebagai teman, jujur belom pernah bisa.
Kenangan kelabu, yang pernah saya alami membuat saya sedih, dan menjadi tak semangat menjalani hari-hari.
.
.
.
Dan sekarang, saat ini saya ngampus di lubuklinggau, tempat kelahiran saya.
Saya, mengambil prodi management karena, orang tua saya seorang pembisnis.
Harapan, mereka mungkin dengan adanya saya didunia bisnis, bisa membangun bakat saya untuk terjun didunia bisnis.
Seperti yang telah saya ucapkan, bahwa saya bener-benar tidak bahagia.
Saya, hanya mencoba untuk menjadi bahagia.
Tapi, berpura-pura bahagia butuh banyak tenaga bukanπ.
Jadi, saya mencoba membuat orang disekeliling bahagia, dan tertawa karena saya. Itu saya lakukan agar mereka tak tahu bahwa dibalik kebahagian tersimpan luka.
Andai takdir sekali saja, berpihak pada saya, saya ingin diluluskan, andai Allah saat itu mengabulkan permintaan saya untuk lulus di perguruan tinggi tentu saya akan bahagia.
Bahagia, karena tidak mengutuk bahwa diri ini bodoh, bahagia karena mendapatkan pengalaman yang akan didapatkan diluaran sana, bahagia karena menjadi anak yang mandiri.
Orang bilang, Allah tahu yang terbaik, orang bilang harus yakin bahwa apa yang ditakdirkan untukmu tak akan melewatimu dan sebaliknya apa yang tidak ditakdirkan untukmu tak akan pernah datang padamu.
Dan orang juga bilang bahwa semua akan indah pada waktunya.
Jujur, saya belom bisa mengatakan bahwa semua akan indah pada waktunya, karena seperti apa yang telah saya katakan, saya takut berharap.
Namun, percaya atau tidak yakinlah bahwa semua yang telah hilang tidak akan kembali.
Sekarang, saya harus menerima kenyataan bahwa disini saya bernaung dan bertempat.
Tidak akan pernah pergi ataupun berpaling.
Sekarang, saya ingin bahagia.
Ingin menjalani kehidupan ini, dengan senyuman dan keceriaan.
Walaupun, melupakan semuanya tak semudah membolak-balikan telapak tangan.
Hanya, saja saya ingin bersyukur terhadap ketetapan Allah SWT.
ALLAH, tahu apa yang terbaik.
Manusia, hanya bisa berencana yang hanya menentukan pada Akhirnya ialah dia sang maha pencipta.
Mungkin, dengan saya kuliah disini banyak sekali hikmah yang bisa dipetik, yang bahkan saya sendiri tak pernah menyadari.
Tatapan kosong, dan rasa haru masih membekas dihati. Rasa haru masih terasa di hati. Tapi, apakah dengan bersedih bisa mengembalikan segala yang telah hilang?
Tentu tidak bukan, jadi saya bilang pada diri saya, bahwa mulai detik ini kini dan selamanya.
Saya, Chusnul Chotimah akan bangkit dan semangat untuk menghadapi kehidupan ini. Jadi, saya seorang pejuang!!
Sekali lagi saya katakan saya seorang pejuang, hanya karena pernah gagal atau salah jurusan, lantas saya jadi sedih dan membiarkan mereka yang membenci tertawa bahagia.
Atau membiarkan orang tua saya merasa gagal dalam mendidik. Tidak saya tidak akan membiarkan itu terjadi.
Akan saya pastikan, walaupun saya kuliah di universitas bina insan, sebuah universitas yang tak pernah saya inginkan, untuk berada disana, intinya dimanapun saya atau kalian semua yang pernah mengalami yang saya rasakan, yakinlah bahwa, semua kampus itu sama saja. terngantung bagaimana oknumnya sendiri bakal menyikapi seperti apa.
Dimanapun kamu berada, kalau memang ALLAH perkenankan kamu sukses yakinlah bahwa itu akan terjadi.
ALLAH TAHU APA YANG KITA BUTUHKAN, DAN KITA CARI, LANTAS KENAPA MASIH BERSEDIH,
JADI, AYO TEMEN-TEMEN BANGKIT BERSAMAKU.. DAN KITA SEMUA TATAP DUNIA INI BERSAMA-SAMA.
KITA TELUSURI NEGERI INI, KERAHKAN SEMANGAT YANG KUAT BAHWA SAYA, KAMU DAN KITA SEMUA BISA MENJADI YANG TERHEBAT ❤ππππ€π€π
Cukup sekian, cerita saya..
Salam hangat dari saya, bagi kamu yang membacanya.
Saya buka dengan salam, maka saya akhiri dengan salam jugaπ.
Saya akhiri wasalamualaikum wr.wb
Hebat Kakakku, senang membacanya
BalasHapus#semangat
Semangat mbak
BalasHapusPengalaman yang menarik. Sayang tulisanmu kurang menarik pembaca untuk ikut bersedih. Di eksplor lagi ya ,zheyeng. Banyak salah tanda baca, ketidak kosistenan tulisan konsonam, dan ejaan. Semoga krisan ini berguna
BalasHapusSemangat dek.Husnul
BalasHapusBanyak jalan menuju cita-cita. Termasuk jadi penulis.
BalasHapusMari terus belajar bersama-sama
#timsapporo